Selama ini, silsilah Syekh
Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn
kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.
Pengaburan tentang silsilah,
keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16
hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg
berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan
dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini
kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal
dari cacing.
Dalam sebuah naskah klasik,
cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika
asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit
kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau
Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia
memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa
Lemah Abang]….<serat
Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa
Tengah, 2002, hlm. 1>
Jadi Syekh Siti Jenar
adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan
setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang
sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar
Islam di Tanah Jawa.
Syekh Siti Jenar yg
memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah
putra seorang ulama asal Malaka, Syekh
Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh
‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana
‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama
terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India,
yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota
Tarim di Hadramaut.
Syekh ‘Abdul Malik adalah
putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh
‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke
berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah
penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika
diurut keatas, silsilah
Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib,
menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada
dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat
dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin.
Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar
agama Islam di sana.
Adapun Syekh Maulana ‘sa
atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh
Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk
Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal
Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan
Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa
transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah.
Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan
Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.
Pada akhir tahun 1425,
Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti
Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil
berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama
tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk
Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun
awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.
Jadi walaupun San Ali
adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak
kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota
multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu
itu.
Saat itu Cirebon dgn
Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan
Malaka, Syekh Datuk Kahfi,
telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan
ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai
bidang agama Islam dgn sepenuh hati, disertai dgn pendidikan otodidak bidang
spiritual.
Persi lain
Mengkaji sejarah merupakan
sebuah upaya yang tidak mudah apalagi bila realitas sejarah tersebut terlah
menjadi opini yang menghegemoni atau hanya sekedar suara simbang yang kurang
dapat dibuktikan. Kenyataan tersebut menimpa sejarah ulama agung, Syeikh Siti
Jenas, Keberadaannya yang misterius membuat pelbagai kalangan terjebak dalam
data-data sejarah yang tidak bisa dibuktikan keabsahannya sampai sekarang.
Oleh sebab itu, melalui
sebuah karya seorang ulama Jawa TImur, tersohor KH. Abil Fadhol Senori Tuban
dalam karyanya “Ahla al Musamarah Fi Hikayah al-Auliya al Asyrah (Sekelumit
hikmah tentang wali ke sepuluh). Penulis meraba menampilkan sejarah yang
sinkron dengan realitas. Mendengar karya tersebut, tentu kita akan takjub,
sebab selama ini yang terkenal di Jawa sebagai penyebar agama Islam adalah
walisongo atau wali sembilan. Nah KH, ABil Fadhol ingin menyampaikan realitas
abu-abu sejarah yang selama ini terabaikan sebab realitanya Syeikh Siti Jenar sering
di klaim sebagai seorang ulama yang sesat dan menyesatkan. Gagasan KH. ABil
Fadhol sebenarnya kian bergulir semenjak berpuluh-puluh tahun lalu, tapi karena
kehati-hatian beliau kraya-karya beliau tidak di publikasikan secara umum. Akan
tetapi saat ini banyak karya beliau yang sudah mulai dilirik oleh Kiai-kiai
Pesantren Tanah Jawa, seperti ringkasan Aushah
al-Masalik ala al-FIyah Ibnu Malik, Kawakib al-Lamah fi Tahqiq al Musamma bi Ahlussunah Wal
Jamaah, Ahlal Musamarah (sebuah karya yang penulis jadikan rujukan
utama dalam biografi Syeikh Siti Jenar dalam tulisan ini) dll. Bahkan ada karya
beliau tentang Syarah Uqud
al Juman fi Ilmi al-Balaghah. Yang belum selesai, karena beliau
telah berpulang ke hadiratnya, sehingga proyek balaghah itu nunggu uluran tangan
dari pada Kiai di Indonesia. Dan kabar yang penulis terima, tak satupun ulama
Indonesia pada saat ini mampu menyelesaikan Maha Karya tersebut. Hanya seorang
pakar balaghah dari Yaman lah yang mampu mencoba menyelesaikan, namun penulis
tidak akan menyinggung banyak tentang KH. Abil Fadhal, tetapi penulis ingin
menuangkan data-data beliau dengan realitas yang penulis jumpai.
Syeikh Siti Jenar mungkin
tidak banyak yang mengetahui asal usulnya dikatakan bahwa beliau berasal dari
seekor cacing yang berubah menjadi manusia, versi yang lain menyebutkan beliau
berasal dari Persia, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa beliau sebagai
keturunan seorang empu kerajaan Majapahit.
Bagi penulis sumber-sumber
tersebut tidak dapat disalahkan, akan tetapi juga tidak dapat dibenarkan secara
mutlak, penulis hanya ingin menampilkan sosok Syeikh Siti Jenar alias Sunan
Jepara alias Syeikh Abdul Jalil dengan di dukung beberapa data yang realistic,
dalam sumber yang penulis terima, beliau merupakan keturunan (cucu) Syeikh Maulana
Ishak, Syeikh Maulana Ishak merupakan saudara kandung Syeikh Ibrahim
Asmarakandi dan Siti Asfa yang dipersunting Raja Romawi.
Syeikh Maulana Ishak
merupakan putra-putri Syeikh Jumadil Kubra yang secara silsilah keturunan
sampai ke Sayyidina Husein, Sayyidina Ali, sampai ke Rasulullah. Walaupun dalam
versi lain yang Syeikh Maulana Ishak merupakan putra dari Syeikh Ibrahim
Asmarakandi. Namun penulis tetap yakin dengan. Syeikh Ibrahim Asmarakandi
menikah dengan Dewi Condro Wulan, putri Cempa yang menjadi saudara sekandung
istri Prabu Brawijaya yang bernama Dewi Marthaningrum, Prabu Brawijaya (Rungka
Wijaya) memiliki banyak istri diantaranya putri raja Cina yang bernama Dewi
Martaningrum (Putri Campa) yang melahirkan Raden Patah dan Wandan Kuning yang
melahirkan Lembu Peteng.
Sedangkan dari pernikahan
Syeikh Ibrahim Asmarakandi dengan Dewi Candrawulan (saudara kandung Dewi
Martaningrum, istri Prabu Brawijaya melahirkan tiga buah hati Raden Raja
Pendita Raden Rahmat (Sunan Ampel) Sayyidah Zaenab. Setelah dewasa Raden Raja
Pendita dan Raden Rahmat mampir ke tanah Jawa untuk mengunjungi bibinya yang
dipersunting Prabu Brawijaya, tatkala akan kembali ke negeri Cempa, keduanya
dilarang oleh Prabu Brawijaya, karena keadaan Cempa yang tidak aman, maka
keduanya pun diberi hadiah sebidang tanag, dan diperbolehkan untuk menikah dan
mukim di tanah Jawa, Raja Pendita menikah dengan anak Arya Baribea yang bernama
Maduretno, sedangkan Raden Rahmat menikah dengan anak Arya Teja yang bernama
Condrowati, dari pernikahan dengan Condrowati Raden Rahmat dianugerahi 5 putra,
sayyidah Syarifah, Sayyidah Mutmainnah, Sayyidah Hafshah, Sayyid Ibrahim (Sunan
Bonang) dan Sayyid Qosim (Sunan Drajat).
Adapun Syeikh Maulana Ishak
menikah dengan seorang putri Pasa dengan dikaruniai dua orang putra, Siti Sarah
dan Sayyid Abdul Qodir Raden Rahmat (Sunan Ampel) putra Ibrahim Asmaraqandi
menyebarkan Islam di daerah Surabaya, sedangkan pamannya Syeikh Maulana Ishak
meninggalkan istrinya di Pasai menuju ke kerajaan Blambangan (Jawa Timur Bagian
Timur) walaupun tinggal disebuah bukit di Banyuwangi namun keberadaannya dapat
diketahui pihak kerajaan dan beliau berhasil menyelamatkan kerajaan Blambangan
dari bencana, sehingga beliau pun diberi hadiah Dewi Sekardadu putri Menak
Sembuyu, Raja Blambangan. Pernikahan tersebutlah yang melahirkan Raden Paku
Ainul Yakin (Sunan Giri), Sayyid Abdul Qodir dan Sayyidah Sarah sebagi buah
hatinya tidak mau ketinggalan dengan ayahnya, keduanya mondok di Pesantren
Ampeldenta asuhan Sunan Ampel (yang masih sepupunya) atas perintah Sang Ayah.
Setelah mumpuni keduanya
pun dinikahkan, Siti Sarah dinikahi oleh Raden Syahid (Sunan Kalijaga) bin
Raden Syakur (Adipati Wilatikta). Sedangkan Sayyid Abdul Qadir mempunyai himmah
untuk belajar ilmu Tasawuf kepada Sunan Ampel. Diantara teman-temannya dialah
yang sangat paham dalam menyingkap ilmu Tauhid secara tepat, tidak ingkar dan
tidak kufur. Sebab tatkala orang seseorang memahami tauhid tentu keyakinannya
terhadap Tuhan tidak akan ekstrim kanan (ingkar) atau ekstrim kiri (Kufur) tetapi
berada dalam neutral point (Nughtah
Muhayyidah)
Kegesitan dalam dunia
dakwah melalui kedalaman teologi (tauhid) menarik simpati pelbagai keluarga
Kraton Majapahit, termasuk Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenanga untuk memeluk
agama Islam, Ki Ageng Pengging dan Ki Ageng Tingkir adalah dua sosok guru yang
mendidik Mas Karebet alias Joko Tingkir untuk menjadi manusia yang saleh
ritual, sosial dan intelektual sehingga keberadaan Joko Tingkir seorang
politisi mampu mendamaikan konflik politik antara Arya Penangsang dapat
ditaklukkan, Jaka Tingkir memindahkan pusat kerajaan Demak ke Pajang dan
menyerahkan kekuasaannya ke Sutawijaya. Sedangkan beliau mengembara dan
berdakwah lewat jalur kultural, hingga meninggal di desa Pringgo Boyo Lamongan.
Kesuksesan Ki Ageng Pengging mendidik Joko Tingkir tak lepas dari peran Sunan
Abdul Jalil yang juga lihai dalam berpolitik.
Bila anda mengkaji
literatur tentang beliau, banyak sekali yang menyebutkan bahwa kematian beliau
diakibatkan karena faktor politik. Sebagaimana telah diteliti oleh Agus Sunyoto
dalam 300 literatur Jawa. Jadi bukan karena ajaran “manunggaling kawulo gusti”
(wahdatul wujud) yang kurang bisa dipahami oleh sebagian kalangan, memang wali
sepuluh menyebarkan Islam tidak dengan kekerasan, melainkan dengan kearifan,
hikmah, mauidhah hasanah, dan mujadalah lewat mata hati, sehingga akulturasi
Budda, Hindu dan Islam adalah sebuah keniscayaa. Akan tetapi esensi ajaran
Islam tetap mendominasi dan tidak bercampur dengan syirik dan kufur. Pernahkah
kita berfikir, andaikan wali sepuluh memisahkan esensi Islam dengan
budaya-budaya non Islam tersebut, tetu mungkin Islam belum mendarah daging
dalam di Pulau Jawa hingga sekarang.
Sunan Abdul Jalil juga
seorang wali yang juga menempuh metode tersebut, sehingga secara intelektual
beliau berada dalam papan atas. Tak heran apabila banyak kalangan elit
Majapahit yang masuk Islam. Santri-santrinya yang dikhawatirkan mencegah
berdiri dan berkembangnya kerajaan Demak Bintoro. Sungguh sangat kejam hanya
demi tegaknya Negara Syariat, Sunan Abdul Jalil di rendahkan reputasinya dan
dituduh menyebarkan ajaran sesat.
Hal ini dapat anda buktikan
dengan kematian misterius, tanpa diketahi tahun dan tempat eksekusi tersebut.
Sehingga seolah-olah beliau hilang begitu saja. Padahal santri-santrinyapun
aman dan tidak mendapatkan tekanan dari penguasa, seperti Kiai Ageng Pengging
alias Kebo Kenanga yang berhasil mendidik Joko Tingkir. Konflik antara poyek
besar Negara Islam yang berpusat di Demak Bintoro dan Glagah Wangi Jepara,
inilah yang menjadikan nama harum sebagai Sunan Jepara alias Syeikh Abdul Jalil
makamnya yang terletak di dekat Ratu Kalimanyat (Bupati Pertama Jepara) sampai
sekarang banyak diziarahi orang. Memang proyek Demak Bintoro merupakan garapan
kontraversial, sebabb Raden Patah sebagai pendiri merupakan anak dari Raden
Brawijaya, seolah-olah Demak ingin membangun sebuah kerajaan New Majapahit
versi Islam. Tak heran bila setelah Raden Trenggono wafat banyak tarik ulur
kekuasaan, terutama Glagah Wangi (Jepara) dengan pusat kearajaan (Demak
Bintoro) oleh sebab itu tak heran bila kemudian Joko Tingkir memindahkannya ke
Pajang.
Begitulah sekelumit sejarah
tentang Syeikh Siti Jenar alias Syeikh Abdul Jalil atau Sunan Jepara, lebih
jelasnya anda dapat mengunjungi makamnya dan dapat bertanya kepada juru kunci
makam tersebut. Yang telah menutup rapat-rapat selama bertahun-tahun. Wallahu
‘alaam


